Tue. May 17th, 2022

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, berusia minimal 1382 tahun, berdasarkan Prasasti Sriwijaya yang dikenal dengan Prasasti Bukit Posisi. Menurut prasasti yang bertanggal 16 Juni 682. Saat itu penguasa Sriwijaya mendirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografi, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam air. Airnya berasal dari sungai dan rawa, serta air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih memiliki 52,24% daratan yang tergenang air (data Statistik 1990). Mungkin karena kondisi ini, nenek moyang masyarakat kota ini menamakan kota ini dengan Pa-lembang dalam bahasa Melayu Pa atau Pe sebagai kata yang menunjukkan suatu tempat atau situasi; sedangkan lembang atau lembeng berarti dataran rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam (menurut kamus Melayu), sedangkan menurut bahasa Melayu-Palembang lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah tempat yang tergenang air, untuk informasi sejarah lebih lengkapnya di sejarahpedia.

Kondisi alam yang dimiliki nenek moyang masyarakat Palembang ini menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air merupakan sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan terjangkau serta memiliki kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, letak kota yang strategis berada dalam jaringan yang mampu mengatur lalu lintas antara tiga wilayah kesatuan:

The highlands of Western Sumatra, namely: the Bukit Barisan Mountains.

Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak sungai saat memasuki dataran rendah.

Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah tersebut merupakan faktor lokal yang sangat menentukan dalam pembentukan pola budaya peradaban. Faktor lokal berupa jaringan dan komoditas frekuensi tinggi telah terbentuk dan berhasil mendorong masyarakat lokal untuk menciptakan pola budaya pertumbuhan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor lokal inilah yang menjadikan Palembang sebagai ibu kota Sriwijaya yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi pada zaman klasik di kawasan Asia Tenggara. Kemuliaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada masa paruh bayanya sebagai kesultanan yang disegani di Nusantara, untuk sejarah palembang yang selengkapnya di sejarah kota palembang.

Sriwijaya, seperti bentuk pemerintahan lain di Asia Tenggara pada waktu itu, dikenal sebagai Port-polity. Gagasan tentang Port-polity dimulai hanya sebagai pusat redistribusi, secara bertahap mengambil alih sejumlah bentuk kemajuan yang meningkat yang terkandung dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan suatu Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan kekayaan dan kontak budaya. Hasil ini diperoleh oleh para pemimpin lokal. (di Sriwijaya istilahnya adalah datu), dengan hasil ini menjadi dasar penggunaan kekuatan ekonomi dan kekuatan politik di Asia Tenggara.

Ada artikel menarik dari babad Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke-14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut: Negara ini terletak di Laut Selatan, mengendalikan lalu lintas perdagangan luar negeri di Selat. Pada zaman kuno, pelabuhan menggunakan rantai besi untuk menahan bajak laut yang jahat. Saat kapal asing datang, rantai diturunkan. Ketika sudah aman kembali, rantai dilepas. Perahu-perahu yang lewat tanpa henti di pelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak kapal berani mati. Itu sebabnya negara ini menjadi pusat pelayaran.

Tentu masih banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Persia, mencatat semua peristiwa kapan pun mereka melihat dan dengan cerita. Jika para pelaut Arab dan Persia menggambarkan kondisi sungai Musi, tempat Palembang berada, itu seperti kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan sebagai kota yang sangat besar, dimana ketika masuk ke dalam kota, kokok ayam jantan tidak berhenti berteriak (artinya kokok ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah perjalanan mereka penuh keajaiban 1001 malam. Para pelaut Cina itu merekam pemandangan kota Palembang yang lebih realistis, di mana mereka melihat bagaimana kehidupan penduduk kota yang hidup di atas rakit tanpa dikenakan pajak. Sedangkan pemimpinnya tinggal di sebuah rumah di lahan kering di atas rumah bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan bahasa dan karakternya. Palembang disebut atau dilafalkan oleh mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (artinya pelabuhan tua). Setelah mengalami kejayaannya pada abad ke-7 dan ke-9, pada abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara bertahap. Runtuhnya Sriwijaya, baik karena persaingan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola India dan akhirnya kejatuhan ini tidak bisa dihindari setelah bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang merupakan bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan-kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia. pada abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara bertahap. Runtuhnya Sriwijaya, baik karena persaingan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola India dan akhirnya kejatuhan ini tidak bisa dihindari setelah bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang merupakan bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan-kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia. pada abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara bertahap. Runtuhnya Sriwijaya, baik karena persaingan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola India dan akhirnya kejatuhan ini tidak bisa dihindari setelah bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang merupakan bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan-kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *